Hartono & Gisela Story 2

Ayah mertua saya memutuskan bahwa saya harus berpisah dengan Gisela. Istri saya terlihat sangat tertekan. Tapi terlihat dia menyembunyikan. Saya tidak tahu ‘deal’ apa yang ada di belakang semua ini. Tetapi kelak saya kaget ketika mengetahuinya.

Hari yang buruk

Yah seperti sudah saya duga. Hari ini adalah hari buruk yang sangat meletihkan. Saya berusaha bermain Lego dengan Tof. Saya juga memutar video Spongebob untuk Tif. Tetapi pikiran saya tidak disitu. Saya ajak anak-anak untuk pergi ke Supermarket. Lama kami berputar-putar di Supermarket tanpa membeli apapun. Akhirnya kami membeli sekotak ice cream, dan sepotong besar  daging sapi Australia. Daging sapi Australia memang luar biasa. Saya senang memasak. Biasanya saya membuat steak ini untuk Gisela. Salah satu job description saya sebagai suami adalah memasak. Gisela mempunyai trauma terhadap panas.

Pada waktu kecil dia pernah tersiram air mendidih. Sampai sekarang dia sangat takut dengan panas. Saya selalu tertawa melihat di menggoreng. Setelah minyak panas,dia mengambil ayam yang akan digoreng. Lalu dia mengambil ancang-ancang untuk lari sambil tangannya dijulurkan sejauh mungkin ke arah wajan. Ketika dia ‘meluncurkan’ ayam ke wajan, segera dia start lari menjauh. Dia takut terkena cipratan minyak. Saya mempunyai bakat alami untuk memasak, dan saya senang memasak. Saya yang memasak untuk Gisela dan anak-anak. Memasak itu mudah. Ketahui saja apa kesukaan orang-orang yang kita cintai. Masaklah dengan bahan tersebut, dan tambahkan cinta pada masakan anda. Semuanya menjadi menyenangkan. Seorang teman yang juga mempunyai hobi memasak bertanya, “Mengapa masakan pria lebih enak dari masakan wanita?”. Saya tahu jawabannya, “Pria memasak karena ia senang memasak, sementara wanita memasak karena kewajiban!”. Saya bercanda… jangan tersinggung ya para ibu..

Semua kenangan bersama Gisela keluar satu per satu. Saya masih ingat dia memeluk saya erat sambil berkata “Chai…. Jangan tinggalin ijk ya…”. Kami saling memanggil dengan kata “Chai”. Chai adalah singkatan dari “sayang”. Ijk adalah kata bahasa belanda yang berarti ‘saya’. Sepanjang pernikahan kami hal yang paling ditakutinya adalah saya pergi meninggalkannya. Dia selalu ingin ikut kemana saya pergi. Dia selalu murung ketika saya pergi. 2 jam setelah kepergian saya, biasanya dia telepon, “kapan pulang?”. Rasanya tidak ingin pergi dari sisinya. Sekarang anak-anak mewarisi hal ini dari mommy mereka. Tof murung jika saya harus pergi. Setiap malam ia bertanya, “Daddy besok rencananya apa?”. Ia perlu tahu jika saya pergi, untuk mempersiapkan mental katanya. Tif selalu ingin ikut kemanapun saya pergi. Ia tahu bahwa jika pergi bersama daddy-nya, dia selalu membawa sesuatu untuk dibawa pulang.

Hari itu saya tidak berniat untuk menelpon dan menghubungi siapapun. Malam hari kami bertiga segera masuk dalam selimut, dan tidur berdempetan. Tof di kanan, Tif dikiri. Saya tidak dapat bergerak. Tetapi saya segera kehilangan ‘kesadaran’. Untunglah Tuhan menciptakan tubuh yang dapat menjadi letih. Setelah berdoa bersama anak-anak, saya segera memejamkan mata. Tidur. Tetapi diantara sadar dan tidak sadar (sering disebut sebagai state Theta), saya mendengar suara yang sangat saya kenal. Saya tahu itu suara Tuhan. Ketika itu saya tahu bahwa segalanya akan beres. Malam itu saya tidak bermimpi apa-apa. Saya tidur seperti anak kecil. Ada 3 anak kecil yang tidur…

Kebangkitan

Mentari hangat segera masuk ke kamar tidur. Tof dan Tif membangunkan saya karena mereka lapar. Saya bangun dengan segar. Selesai membuatkan makan pagi untuk mereka, saya minum jus apel. Ahh… segar. Selesai mandi (oh ya.. kemarin seharian saya tidak mandi, lupa…), saya duduk di depan komputer saya. Saya berusaha mengingat apa yang terjadi dalam 2 hari ini. Saya heran. Kemana perginya kesedihan? Kemana perginya kemarahan ? Kemana perginya depresi ? Hari ini saya benar-benar segar dan bebas. Baru kali ini lah otak logika saya dapat saya pakai. Saya membayangkan seorang suami yang depresi sepanjang hidupnya. Saya membayangkan seorang suami yang ‘mata gelap’ karena istrinya pergi. Saya membayangkan seorang suami yang sakit hati. Kan seharusnya itu yang terjadi pada saya? Tetapi mengapa semuanya tenang dan baik pagi ini?

Anda pernah dengar puisi foot steps in the sand?

Footsteps In The Sand

One night a man had a dream.
He dreamed he was walking along the beach with the LORD.
Across the sky flashed scenes from his life.
For each scene, he noticed two sets of footprints in the sand:
one belonging to him, and the other to the LORD.

When the last scene of his life flashed before him
he looked back, at the footprints in the sand.
He noticed that many times along the path of his life
there was only one set of footprints.
He also noticed that it happened at the very lowest and saddest times of his life.

This really bothered him and he questioned the LORD about it:
“LORD, you said that once I decided to follow you,
you’d walk with me all the way.
But I have noticed that during the most troublesome times in my life
there is only one set of footprints.
I don’t understand why when I needed you most you would leave me.”

The LORD replied:
“My son, My precious child, I love you and I would never leave you,
During your times of trial and suffering,
when you see only one set of footprints, it was then that I carried you.”

Author unknown

 

Saya tersenyum. Terasa aliran energi baru dalam diri saya. Jika Tuhan yang menggendong saya, saya pasti dapat melalui apapun. Ok, sekarang waktunya berkerja, mumpung sedang digendong, pikir saya. “Its about time!”, saya pikir. Ini kan hari ke 3. Bangkit pada hari ketiga, idenya keren juga. Saya siap melanjutkan hidup. Rencana perlu disesuaikan.

Hari itu Yudi datang sambil mengantarkan pasport Tof dan Tif. Good. Paling tidak kontrol anak-anak ada pada saya. Yang perlu diselamatkan adalah anak-anak, pikir saya. Saya menyalakan komputer dan menuliskan topik “Tof & Tif”. Saya tuliskan semua pilihan yang ada untuk mereka. Lalu saya menuliskan kerugian dan keuntungan yang ada. Sejak sebelum mereka lahir saya sudah merencanakan masa depan mereka. Hari itu saya menyesuaikan kembali semua rencana saya. Selesai dengan anak-anak, saya segera melakukan hal yang sama untuk saya secara pribadi. Lalu saya mulai dengan rencana untuk Gisela. Saya berhenti cukup lama. Akhirnya saya menyerah… Saya tidak dapat membuat rencana untuk Gisela sebelum berbicara dengannya.

Get Ready !

Hari itu saya menghubungi adik saya di Indonesia, untuk mendiskusikan bagaimana cara penyampaian hal ini kepada  ayah dan ibu saya. Saya menghubungi teman dekat saya di New Zealand yang menikah dengan sepupu dari Gisela. Memang kami ikut andil dalam  “mempertemukan” mereka. Saya juga menghubungi Susan salah seorang sahabat dekat dan juga rekan bisnis. Saya merencanakan untuk pulang ke Indonesia. Saya harus membawa Tof dan Tif kembali ke Indonesia.

Tiket memang sudah dibeli. Kami harus keluar dari Australia setiap 3 bulan. Itu adalah batasan dari visa kami. Gisela  telah membeli tiket ke Singapura untuk dirinya dan kedua anak. Saya mendapat penerbangan 1 hari setelahnya. Saya katakan bahwa saya akan membawa anak-anak ke Indonesia untuk bertemu dengan kakek-neneknya. Mereka sangat rindu karena sudah 6 bulan tidak  bertemu dengan anak-anak. Gisela berjanji untuk mengantarkan anak-anak ke Airport Singapura bertemu dengan saya, lalu saya beserta Tof dan Tif akan melanjutkan penerbangan ke Indonesia. Saya sangat kuatir saya tidak dapat bertemu dengan anak-anak lagi. Saya ragu-ragu apakah dia akan menepati janjinya? Selain itu, apakah saya bisa mendapat kesempatan berbicara berdua dengan Gisela di Singapura?

Imajinasiconer-3d

Gisela menjemput anak-anak untuk berangkat ke Singapura. Pada saat menjemput ia ditemani oleh ayahnya. Saya tidak pernah mendapatkan kesempatan berdua dengan Gisela membahas yang penting dalam hidup ini. Saya meminta ayah mertua untuk mengambil foto kami berempat. Foto ini merupakan foto terakhir kami berempat. Saya menyadari hal ini. Bukan suatu foto yang indah. Tetapi memberikan kenangan kepada saya dan anak-anak. Apakah ini akhir dari keluarga kami?

Pada saat Gisela dan anak-anak akan berangkat, saya juga perlu mengantar seorang tamu dari Malaysia ke Airport. Ketika saya datang saya sengaja mencari Gisela dan anak-anak. Ternyata mereka pergi lengkap. Ayah, ibu bahkan Ilona, adik Gisela yang tinggal di Sydney juga ada. Mereka diantar oleh ‘Uncle Dave’. Saya melihat dari kejauhan untuk mengetahui keadaan. Tiba-tiba Tif berteriak “Daddyyyy….”, dan berlari ke arah saya. Tof juga segera berlari menemui saya. Saya mencium mereka berdua sambil tertawa pahit. Gisela tidak menghampiri saya, dia sedang bersama Dave. Terlihat suasana yang canggung pada semua orang. Saya menunggu sebentar sambil bercanda dengan Tof & Tif. Saya menunggu agar suasana canggung ini semakin canggung dan biarlah mereka merasakannya untuk waktu yang lama. Saya memang jail ! men-‘jaili’ orang adalah keahlian saya.

“Yuk kita ke mommy!”, ajak saya kepada anak-anak. Tif dengan ceria segera menarik-narik tangan saya. Tof dan Tif senang bila bersama-sama ayah ibunya. Sebelumnya kami memang ‘keluarga yang tidak dapat dipisahkan’. “Halo sayang…”, saya menyapa Gisela. Ia tersenyum. Kami membicarakan kembali janji bertemu di Airport Singapura besok. Saya tidak ingin ada sedikitpun kesalah-pahaman tentang jam dan tempat.

“Oh… Hai Dave…. Thanks for helping Gisela..”, sindir saya pada Dave. Pada saat ini dia berperan seperti seorang pahlawan keluarga yang menyelamatkan Gisela dari saya. Seharusnya ini bisa menjadi klimaks akhir dari film action box office yang menghabiskan setengah dari anggaran film. Setting di Airport Perth, dan seorang jagoan melawan monster jelek yang menculik  istri dan anak-anaknya. Pedang laser berdesing cepat. Monster segera bertambah besar. Kami bertarung sehingga Airport porak-poranda. Bule-bule berlarian menyelamatkan diri. Gisela ketakutan sambil memeluk anak-anak. Akhirnya monster dapat dibunuh dengan menancapkan 4 buah pesawat boeing 737 ke dalam tubuhnya. Gisela beserta anak-anak menyambut saya dengan gembira. Kami berpelukan dan hidup happily ever after. Itu bayangan saya.

Sayang kenyataannya tidak seperti itu. Saya menatap mata Dave lama sekali, sampai dia merasa risih. Saya menatapnya dengan pandangan mengancam, dengan pandangan menghina, dan pandangan menertawakannya. Coba anda lakukan tatapan seperti ini ! Susah ! Saya juga pernah mencobanya lagi di depan kaca. Tidak bisa. Tapi saat itu pandangan tajam seperti itu yang ada pada mata saya. Yah sayang cuma itu yang saya bisa lakukan saat itu.

Saya mengucapkan “Good bye” sekali lagi kepada Gisela dan anak-anak. Dari sudut mata saya melihat ibu mertua memalingkan muka. Ia tidak ingin melihat saya. Ayah mertua mengangguk-angguk sambil tersenyum. Senyum pura-pura tentunya. Hanya Ilona yang tersenyum manis kepada saya. Saya juga tersenyum manis kepadanya. Ilona memang manis. Jarak umur saya dengan Ilona adalah 14 tahun. Jarak umur saya dengan ibu mertua saya juga 14 tahun. Agak membingungkan bagi saya memang.

Kembali ke Indonesia

Di Singapura segalanya berjalan lancar. Saya ingin berbicara dengan Gisela. Tetapi kali ini pengawal yang menyertainya adalah ibu nya. Gisela tidak berbicara apa-apa, dia hanya menyerahkan barang-barang dari Tof dan Tif kepada saya, beserta pasport mereka. Ibu mertua menanyakan kapan anak-anak kembali lagi ke Australia. Saya katakan sekitar 2 minggu lagi. Sebenarnya saya tidak merencanakan anak-anak untuk kembali ke Australia.

Tidak berapa lama kami di Bandung, ayah saya sakit lalu setelah melewati perawatan panjang di rumah sakit, beliau meninggal. Saya memberitahu Gisela dan ibu mertua. Karena tidak dapat berbicara langsung, saya mengirim email dan SMS. Pada saat ayah saya di rumah sakit, kedua mertua saya datang ke rumah.

Tof berlari-lari ke ruang kerja saya di lantai 2. “Grand Ma dateng!”, bisiknya kepada saya. “Siapa!?, Grand Ma?”, tanya saya tidak percaya. Mereka menanyakan orang tua saya. “Tumben!”, pikir saya. Mereka mengatakan bahwa pengadilan memanggil orang tua saya untuk menjadi saksi. Saksi untuk sidang perceraian.

Teman saya Beny Wullur SH menasihatkan saya untuk mendatangi pengadilan dan mencari tahu tentang gugatan cerai tersebut. Jika saya tidak datang setelah panggilan 3 kali berturut-turut, maka sidang akan dilanjutkan, dan saya kehilangan hak bicara. 3 Surat panggilan tersebut tidak sampai, entah mengapa. Saya hampir saja kehilangan kesempatan untuk mempertahankan pernikahan saya di pengadilan.

Gugatan Cerai di PN Bandung

Kehadiran saya di pengadilan mengejutkan semua pihak. Yang paling kaget adalah ayah dan ibu mertua. Mereka membawa 2  calon saksi. Hakim juga tidak menduga saya akan datang. Saya tidak pernah datang ke pengadilan, saya tidak pernah mengalami masalah hukum. Sekarang saya duduk di meja tergugat.

Saya ditanya mengapa tidak hadir di pengadilan pada sidang-sidang sebelumnya. Saya protes, karena saya tidak pernah terima surat. Tetapi hakim ketua berkata bahwa hal tersebut tidak menjadi masalah, karena sekarang tergugat sudah hadir. Selama hampir 1 jam hakim ketua menasihati saya tentang perceraian di depan sidang. Saya senang sekali mendengarnya. Seharusnya Gisela mendengar semua hal ini. Sayangnya dia tidak hadir. Saya melirik ke ayah dan ibu mertua saya dengan pandangan anak nakal. Semua perkataan hakim ini yang saya katakan kepada mereka ketika mereka datang ke rumah kemarin ini. Sekarang semuanya itu diulang di depan pengadilan oleh hakim ketua. Beliau mengatakan bahwa hasil perceraian adalah buruk, baik bagi suami, istri, dan anak-anak. Beliau juga mengatakan bahwa sebaiknya suami dan istri berdiskusi baik-baik. Itu semua adalah yang saya katakan kepada mertua saya. Ini memang kebalik. Menantu yang menasihati mertua. Tapi sekarang semuanya jadi lucu. Hakim yang menasihati saya di depan mereka. Tentu saja saya melirik berkali-kali kepada mereka ketika pernyataan yang saya katakan kemarin ini diulang oleh hakim.

Saya dan Gisela mengetahui hampir segala sesuatu tentang pernikahan. Bersama beberapa teman, termasuk Susan dan Stefanus pasangan sahabat kami,  pernah mengadakan seminar pasangan suami-istri di Bandung, Tasikmalaya, dan Cirebon. Kami juga pernah mengadakan malam suami-istri memakai restoran the View di utara Bandung. Suatu malam yang romantis untuk pasangan suami-istri. Setiap suami dianjurkan membawa sebuah hadiah untuk istrinya. Saya membelikan Gisela  dua pasang anting dari emas putih. Sekarang salah satu dari anting tersebut ada di telinga Tif. Kami menasihati pasangan untuk tidak bercerai. Kami telah mendengar banyak sekali kasus perceraian. Semua teman-teman menganggap kami adalah pasangan yang berbahagia. Waktu itu ya! Sejak mertua ikut campur semuanya menjadi kacau.

Semua nasihat yang dikatakan oleh hakim adalah nasihat yang kami berikan kepada pasangan-pasangan yang ingin bercerai. Gisela mengetahui tentang segala kasus ini. Dia tahu semua prinsip-prinsip dalam pernikahan. Dia juga tahu tentang janji nikah. Dia juga tahu saya tidak akan mengingkari janji saya padanya. Saya membaca kembali gugatan yang diajukan. Gugatan ini dibuat oleh pengacara yang disewa oleh mertua. Gugatan  nomor 361/PDT/G/2010/PN BDG Ini tertanggal 15 Sept 2010. Itu berarti 2 minggu setelah kami bertemu di Singapura. Kelihatanya mertua mengajak Gisela untuk bertemu dengan pengacara ini di Bandung. Jadi setelah pertemuan di Singapura, Gisela ternyata ke Bandung juga.

Membela Keutuhan Keluarga

Segera semua fokus ditujukan pada kasus pengadilan ini. Saya akan mempertahankan pernikahan, itu sudah jelas.  Tetapi apakah saya akan meminta bantuan dari pengacara? Saya memutuskan untuk tidak membuang uang untuk pengacara, dan saya menghadapinya sendiri. Saya akan menghadapi semua permasalahan yang mengganggu keluarga saya.

Undang-undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan saya lalap habis.  Peraturan pemerintah tentang pernikahan dan perceraian saya pelajari. Saya mencari prosedur pengadilan perdata, beser ta seluruh aspek-aspeknya. Dalam tempo 2 minggu saya siap diuji di depan pengadilan. Saya membuat sendiri jawaban gugatan.

Saya menemukan keberadaan dari Peraturan Pemerintah No.9/1975 Tentang Pelaksanaan UU No 1/11974 . Pada Pasal 19 terdapat 6 alasan sah untuk terjadinya perceraian :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2(dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5(lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri;
  6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Butir 1 s/d 5 semuanya tidak relevan. Pengacara Gisela mempergunakan butir 6 dalam gugatannya. Ini relatif mudah, karena secara kenyataan, tidak pernah terjadi pertengkaran dan perselisihan. Tidak ada seorangpun yang pernah mendengar kami berselisih besar. Perselisihan tetap ada. Hampir semua perselisihan sebabnya adalah saya yang tidak rapi menaruh barang-barang, dan banyak menghilangkan barang-barang di rumah. Pada suatu saat saya pernah menemukan uang Rp. 500 ribu di kantong jas saya. Dengan keheranan saya bertanya kepada Gisela apakah dia pernah menaruh uang ini dikantong jas saya. Dia tertawa terbahak-bahak. “Itu gara-gara chai ga teliti, pasti pernah kehilangan uang. Kehilangan uang aja ngga tau! Sekarang merasa mendapatkan keajaiban dari kantong jas lagi! Dasar…”. Saya hanya tersenyum kecut. Dia memang tahu segala sesuatu tentang saya.

Proses pengadilan diulang dari awal. Mulai dari proses mediasi lagi. Ayah mertua yang saat itu hadir membisiki pengacara. Pengacara segera mengajukan keberatan bila sidang diulang lagi dari awal. Tetapi Majelis hakim mengatakan bahwa mereka menghargai kehadiran tergugat yang hadir sendiri dengan tulus. Sebelum hakim mengetok palu untuk menunda sidang 2 minggu agar saya sempat membuat jawaban atas gugatan, hakim ketua menanyakan pendapat dari saya terhadap gugatan ini. Saya segera mengatur strategi dengan cepat di otak. Seseorang pasti akan yakin dengan perkataannya sendiri. Sebaiknya saya memakai perkataan dari bpk hakim sebagai jawaban saya.

“Majelis hakim yang terhormat, Saya sungguh merasa tersentuh dengan nasihat yang diberikan. Saya ingin mengikuti nasihat tersebut. Mohon Majelis hakim membantu agar perceraian ini tidak terjadi. Saya sekarang sadar bahwa banyak pihak yang akan menderita dengan adanya perceraian ini. Terima kasih atas semua nasihat yang diberikan”, jawab saya. Babak pertama rasanya sudah saya menangkan. Mertua di pojok sana sekarang terlihat buruk di mata para pengunjung sidang. Saya tersenyum nakal kepada ibu mertua saya. Ia segera membuang muka. Saya memang anak nakal !

Pak Alexander Andri adalah mentor dalam kehidupan ini. Beliau dan istrinya ibu Rina selalu mendampingi saya dalam semua persidangan. Senang rasanya mempunyai mentor yang sangat peduli. Padahal saya tahu beliau sibuk sekali. Tetapi kehidupan keluarga adalah salah satu prioritas dalam kehidupan mereka.

Gisela tidak pernah hadir lagi di persidangan. Dia hanya hadir pada sidang pertama. Hakim dan  pengacaranya yang memberitahu saya tentang hal ini. Semua saksi dari pihak penggugat langsung menghilang. Hanya pengacara saja yang setia hadir dipengadilan tanpa ada dukungan dari fihak mertua. Sebenarnya saya ingin ‘membantai’ saksi-saksi yang dihadirkan oleh pengacara lawan. Saya yang paling tahu tentang Gisela, saya juga yang paling tahu tentang keluarga kami. Semua saksi palsu yang berani bersaksi tentang adanya perbedaan pendapat yang berlarut-larut akan saya bantai habis. Saya sungguh ingin mempermalukan saksi yang berani bersaksi dusta terhadap keluarga kami. Terutama ayah mertua. Sayang sekali mertua yang kelihatannya gagah, dan benar ini tidak berani menjadi saksi setelah kehadiran saya. Para pengawal yang melindungi Gisela semua bersembunyi. Sampai hari ini saya belum melihat batang hidung mereka lagi. Tindakan mereka menimbulkan luka besar pada diri Gisela dan anak-anak. Saya juga sebenarnya berpotensi untuk luka. Tetapi saya tidak mau terluka. Tulisan ini berbau dendam hanya sekadar untuk menggambarkan emosi saat itu. Tapi sekarang saya sudah baik kok.. Saya memaafkan mereka.

Sidang berjalan dengan santai. Tidak ada gejolak aneh. Majelis hakim ingin mempertemukan saya dengan Gisela. Gisela menolak untuk hadir. Pada saat berbincang-bincang dengan hakim, hakim mengatakan bahwa dari keterangan Gisela dan saksi (ibu mertua saya), beliau mencium ada suatu hal yang disembunyikan. Saya tidak bertanya lebih jauh, mengapa belau merasa ada yang disembunyikan. Tetapi Gisela adalah seorang yang tulus. Ia paling tidak bisa berpura-pura. Kepura-puraannya akan segera terasa. Begitu juga dengan ibunya. Beberapa kali saya merasa dibohongi dengan sikapnya. Ketika dia berbohong, bahasa tubuhnya berkata demikian. Mungkin hal ini yang menyebabkan majelis hakim merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Untuk membuktikan rasa penasarannya, majelis hakim meminta agar ada salah seorang saksi dari saya yang datang. Untuk itulah mertua saya datang mencari orang tua saya untuk hadir di pengadilan. Untunglah majelis hakim mengikuti petunjuk yang timbul adalam hatinya. Hal ini yang menyebabkan saya akhirnya mengetahui adanya gugatan ini. Kita perlu mengasah hati nurani kita agar dapat memberikan kita rambu-rambu dalam kehidupan.

Saya mengajukan 3 saksi, yaitu Susan, sebagai sahabat dari saya dan Gisela, Pak Alexander Andri, sebagai mentor kehidupan kami berdua, dan Adik saya Budi Sangkanparan. Hakim ketua tetap ingin bertemu secara fisik dengan Tof dan Tif. Ia ingin melihat sendiri keadaan dari anak-anak saya ini. Pertemuan dilangsungkan di sebuah ruangan rapat, tidak seperti sidang pengadilan. Dilakukan dialog dengan Tof dan Tif. Saya tidak mempersiapkan jawaban untuk mereka. Biarlah mereka menjawab pertanyaan hakim semau mereka. Hakim bertanya kepada Tof, apakah mau tinggal dengan Gisela? Tof menggeleng dengan keras. Saya juga kaget dengan reaksinya. Tof adalah anak yang perasa, dan dia sangat mengasihi ibunya. Kelihatannya dia merasa risi dengan ‘Uncle Dave’ yang terus menerus ada bersama ibunya. Selain itu spageti saya memang lebih enak dari masakan ibunya. “Spageti buatan daddy adalah spageti paling enak di dunia”, itu selalu rayuannya ketika meminta saya membuatkan spageti untuk dia. Tentu saja, karena spageti ini dibuat dengan mempergunakan anggur prancis dengan umur lebih dari 25 tahun. Hehehe….

The JudgeLain dengan Tif, dia langsung berteriak “Mauu…”, sambil tertawa-tawa. Dia senang sekali bepergian. Tidak peduli kemana perginya, tapi dia mau pergi. Hakim tertawa melihat reaksi dari Tif. Keluar dari ruang rapat tersebut, kami berfoto bersama. Pak Alexander Andri yang mengambil gambar dengan ipod-nya. Di depan kiri adalah ketua majelis hakim, dan di latar belakang terlihat pengacara yang disewa oleh orang tua Gisela.

Sidang keputusan akhirnya digelar. Saya mengajak Tof untuk menghadiri sidang. Biarlah dia mengetahui seperti apa sidang pengadilan itu. Ini salah satu pelajaran hidup yang perlu dia dapatkan. Pak Alexander Andri juga ikut hadir. Sesuai dengan perkiraan kami, gugatan cerai ditolak. Horeeee…… saya berhasil mengalahkan pengacara profesional di sidang. Lumayan lah.. pengalaman menarik. Tapi cerita dengan Gisela tidak berhenti disini.

Visa Australia dari Gisela seharusnya habis tgl 4 Desember 2010. Jika pada tanggal tersebut dia sampai di Australia, maka dia mempunyai waktu tinggal 90 hari. Mudahnya dia akan harus keluar dari Australia pada tanggal 4 Maret 2011. Untuk meminta visa dia harus memiliki ijin dari saya. Jika pengadilan memutus cerai, maka ia bebas, tidak perlu meminta ijin dari saya. Tetapi karena pengadilan memutus lain, maka masalah jadi tidak semudah itu untuk dia ke Australia. Disinilah tokoh  Dave sang pahlawan berperan.

Australian Defacto Relationships

Australia mempunyai hukum yang berbeda dengan Indonesia dalam hal pasangan hidup. Dalam kasus ini saya juga mendapatkan nasihat dari beberapa teman di Australia, dan juga dari teman saya Gunady, salah satu migration Agent di Indonesia yang bersertifikat dari Australia. Dalam definisi defato relationships, Gisela dianggap menjalin sebuah relationship dengan seorang warganegara Australia (Dave) jika memenuhi beberapa kriteria ini :

  1. Tinggal bersama cukup lama pada suatu tempat yang jelas
  2. Melakukan hubungan seks
  3. Ketergantungan finansial satu dengan lainnya
  4. Kepemilikan bersama dari property
  5. Tingkat komitment hidup bersama untuk membagi hidup
  6. Membesarkan anak bersama
  7. Reputasi  yang dikenali oleh publik.

Rencana Yang Dirancang Untuk Meruntuhkan Keluarga Kami

Melihat kriteria ini saya terdiam. Semuanya menjadi jelas. Itu sebabnya ia tidak mau berlama-lama di Indonesia. Itu sebabnya dia harus tinggal di satu rumah bersama Dave. Itu sebabnya ia muncul dalam banyak acara sosial, termasuk sebagai saksi pernikahan di gereja. Saya tidak berani berpikir tentang hubungan seks.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat sebuah email dari ayah mertua, yang menanyakan apakah Tof dan Tif bisa melakukan medical check up agar dapat ikut menjadi permanen resident bersama Gisela. Kedua orang tua Gisela mengajukan permohonan permanent resident Australia. Permohonan ini berdasarkan sponsor dari Ilona, karena Ilona adalah warganegara Australia. Ayah mertua pernah mengatakan bahwa permohonan ini masuk dalam antrian untuk dievaluasi, paling cepat dalam 7 tahun. Tetapi jika Gisela adalah permanent resident, maka mereka akan masuk dalam antrian yang lebih cepat.

Ternyata ini sudah direncanakan sejak keberangkatan Gisela pertama kali ke Australia. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari teman-teman dan saudara di Australia, Gisela memang terus berada disana. Sampai sekarang saya belum berhasil berbicara dengan Gisela mengenai hal ini.

Kesadaran

Akhirnya saya harus berhadapan dengan cinta yang tak bersyarat. Apakah saya mencintai Gisela tanpa syarat (Unconditional Love)? Tadinya saya pikir ya. Tetapi dengan adanya kasus ini, keluarlah  semua yang ada dalam hati saya.

  • Kan seharusnya dia mendiskusikan hal ini dengan saya
  • Kan seharunya dia dapat menelpon atau mengirim email kepada saya
  • Kan seharusnya dia tetap mau berhubungan dengan anak-anaknya
  • Kan dia  istri yang berjanji kepada saya untuk terus bersama saya dalam keadaan suka & duka, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit.
  • Kan seharusnya dia tidak tinggal dengan pria lain
  • Kan harusnya dia berterimakasih kepada saya karena pada saat neneknya meninggal saya yang memimpin upacara penutupan peti matinya.
  • Ada suatu keinginan agar Gisela menderita suatu hal yang jelek, dan akhirnya kembali kepada saya.
  • Ada suatu nafsu untuk membalas semua perbuatan dari pihak-pihak yang ikut campur dalam keluarga saya. Dan pembalasan ini harus telak!

Apa yang terjadi pada saya? Ternyata cinta saya padanya bukanlah cinta tanpa syarat. Jika cinta saya kepadanya hilang bersama keadaan yang buruk, apa bedanya saya dengan dia?

Saya memutuskan untuk tetap mencintai dia. Cinta saya pada Gisela tidak tergantung dengan keadaan, tidak tergantung dengan apa yang dia lakukan, tidak tergantung dengan sikap orang tuanya, dan tidak tergantung pada tingkah laku Dave, dan peraturan hukum Australia !

Saya sadar, cinta itu membebaskan, bukan mengikat. Saya harus melepaskan ikatan yang mengikat Gisela. Dia bebas. Saya jadi ingat cerita Beauty & The Beast.

Mengapa tuan membebaskanya? Bukankah dengan demikian dia lari dan kita akan terus seperti ini?”, tanya para pembantu dari The Beast, pada saat The Beast membebaskan Belle. “Karena aku mencintainya”, jawab The Beast dengan lirih.

Banyak orang yang mungkin tidak setuju dengan keputusan ini. Tetapi saya mencintainya. Tadinya saya dan Tof setiap malam berdoa agar Gisela kembali kepada kami semua. Pada suatu saat saya berbicara dari hati ke hati dengan Tof tentang Gisela. Saya katakan bahwa kita semua mencintai Mommy. Jadi biarlah sekarang kita doakan agar Mommy bisa mendapat semua hal baik dalam kehidupannya, walaupun terpisah dari kita. “Jadi Daddy sekarang ga mau Mommy balik?”, tanyanya dengan polos. Saya katakan bahwa jika Mommy kembali, itu adalah hal yang sangat baik bagi kita semua. Jika Mommy kembali, biarlah karena memang Mommy senang kembali, bukan karena hanya sekedar kewajiban saja. Saya lalu mengajarkan dengan sederhana bahwa kebahagiaan Tof tidak tergantung dari orang lain, termasuk keberadaan Mommy dan Daddy.

Saya ajarkan bahwa Tof mempunyai pilihan, apakah mau bahagia atau tidak. Jika mau bahagia, kebahagiaan itu sudah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Kebahagiaan tidak berasal dari hal-hal diluar kontrol kita. Dia mengangguk mengerti. Saya senang sekali melihat dia mengerti. Saya sadar banyak orang di luar sana yang masih menggantungkan kebahagiaannya kepada sesuatu atau seseorang. Lebih parah lagi jika kita ‘memaksa’ seseorang untuk berperan tertentu agar kita bahagia. Sekarang hal tersebut terasa sangat ‘egois’. Padahal tadinya saya juga melakukan hal tersebut kepada Gisela. Pada waktu itu saya belum ‘Bangun’.

Tujuan

Saya mempunyai sebuah misi. Menyentuh kehidupan 2 Milyar orang selama hidup saya, sehingga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan, dan impian yang mereka inginkan. Saya sudah mulah mempersiapkan hal ini. Misi ini sudah beberapa kali didiskusikan dengan Gisela, walaupun belum sejelas ini. Saya mempunyai sebuah tujuan yang harus dicapai dalam hidup ini. Ada beberapa aspek penting untuk diperhatikan selama perjalanan ini : Rohani, Keluarga, Keuangan, Fisik/Kesehatan, Sosial,  dan Mental. Banyak sekali hal yang perlu terus ditingkatkan pada keenam aspek penting dalam kehidupan saya.

Banyak juga keinginan yang ingin diwujudkan. Salah satu impian yang selalu ingin saya lakukan adalah pergi ke Disneyland bersama Gisela pada saat perayaan 4 Juli di Amerika. 4 Juli adalah tanggal kemerdekaan Amerika. Pada saat itu ada banyak sekali pertunjukan kembang api. Gisela senang sekali melihat kembang api. Tgl 4 Juli itu juga adalah hari ulang tahun Gisela. Sebenarnya ini adalah keinginan Gisela, tetapi sekarang sudah menjadi  impian saya. Saya memutuskan untuk terus menjaga impian ini, dan berusaha agar terlaksana untuk wanita yang sangat saya cintai. Tof dan Tif juga bersemangat mendengar hal ini. Anda dapat menjadi temannya di facebooknya. Jangan katakan bahwa anda mengenalnya dari tulisan ini. Biarlah anda menjadi teman yang sesungguhnya bagi dia. Anggaplah ini sebagai salah satu usaha saya membuatnya senang.

Peluit sudah ditiup. Kereta sudah berjalan menyongsong hari depan. Sayang sekali jika ada penumpang yang tertinggal. Tetapi tidak masalah. Hanya yang ingin ikut saya yang sebaiknya ada dalam kereta. Saya tetap mengharapkan Gisela ada pada salah satu stasiun yang kami kunjungi, dan naik ke dalam kereta bersama saya, karena dia adalah bagian dari rencana ini. Tetapi jika tidak, tidak mengapa juga. Toh saya masih bisa menolongnya mencapai kebahagiaannya sendiri. Semoga. . . .

Bandung, Sept 2011
Hartono Sangkanparan

 

NB

Cerita ini bukan mengenai saya dan Gisela. Ini adalah cerita tentang Cinta tanpa syarat dan tentang Kesadaran kita. Senang sekali bila anda klik [like] untuk facebook anda atau tweet kepada teman-teman anda.