Hartono & Gisela Story
Halo,
Nama saya Hartono Sangkanparan. Istri saya bernama Gisela Anastasia. Kami dikaruniakan 2 orang anak yang ‘Dahsyat’. Christofle ( Tof ) adalah anak laki-laki yang cerdas dan baik. Tiffany ( Tif ) adalah gadis manis yang lincah. Pada saat tulisan ini dibuat (Sept 2011), Tof sebentar lagi berusia 11 tahun dan Tif sebentar lagi berusia 5 tahun.
Anda mungkin mengenal saya di sekolah, gereja, atau bisa saja anda mendengar nama saya karena membaca buku-buku yang saya tulis, atau seminar yang anda ikuti. Saya senang sekali berkenalan dengan anda. Mudah-mudahan kita dapat saling berkenalan lebih jauh setelah anda membaca cerita ini.
Kami menikah pada tanggal 8 July 1995 di Jakarta. Kira-kira satu tahun kemudian ayah saya mengalami stroke di Bandung, dan saya beserta Gisela pindah ke Bandung untuk menemani dan membantu ibu merawat beliau. Sejak 1998 kami berdua bekerja pada sebuah organisasi sosial. Kami melayani organisasi tersebut dengan sepenuh hati. Bahkan kami memutuskan untuk tidak memiliki anak, agar dapat berperan lebih banyak dalam pelayanan sosial kami.
Tentu saja banyak yang tidak setuju dengan keputusan kami berdua. Mereka tidak setuju karena kami memutuskan untuk tidak memiliki anak, dan banyak juga yang tidak setuju karena kami bekerja di sebuah organisasi pelayanan sosial yang tidak menjanjikan uang yang banyak.
Dalam kehidupan pernikahan kami, kami selalu bersama. Banyak saudara dan teman kami yang mengatakan bahwa kami seperti amplop dan perangko. Kemanapun pergi selalu bersama. Ada pula yang mengatakan kami seperti botol dan tutupnya. Tidak ada yang kami sembunyikan. Gisela bahkan menceritakan pengalaman keluarga masa lalunya yang kelam.
Ayah dan Ibu dari Gisela bercerai ketika dia masih kecil. Ia kehilangan figur dari ayah. Ibunya kemudian menikah dengan seorang pria. Gisela pernah bercerita bahwa ia merasa risi dengan ayah tirinya. Dari ayah tirinya ini dia mendapatkan seorang adik wanita. Tentu saja ada perbedaan perlakuan dari orang-tuanya. Tetapi Gisela adalah seseorang yang berjiwa besar. Ia tidak mempermasalahkan semua itu. Pada beberapa kejadian, bahkan saya yang ‘panas’. Tetapi ia tidak ambil pusing dengan itu semua.
Pada suatu siang, ketika kami masih menjalin hubungan (pacaran, maksudnya), saya mendapat telepon dari Gisela, yang segera meminta saya mencatat sebuah nomor telepon. Dia tidak memberitahu itu nomor telepon siapa, dan segera menutup telepon. Ketika kami bertemu kemudian dia bercerita bahwa nomor tersebut adalah nomor telepon dari seorang tante yang merupakan adik dari ayah kandungnya. Mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah tempat di Jakarta. Melalui serangkaian koneksi telepon, akhirnya Gisela berhasil bertemu dengan ayah kandungnya. Ini ceritanya :
Siang itu saya mengantar kekasih saya Gisela ke sebuah Law Office di bilangan kemakmuran Jakarta. Kami berjanji untuk bertemu dengan ayah kandungnya. Law Office tersebut adalah milik kakek dari Gisela. Sejak memperkenalkan diri kepada petugas penerima tamu, semua pembicaraan di kantor tersebut terhenti. Mereka melihat kami seperti melihat sebuah drama. Di ujung ruangan seseorang berdiri dan tersenyum. Secara naluri kami mendekati orang tersebut.
Pada saat bertemu ayah Gisela memandang kepada Gisela, gadis kecil yang dikenalnya dulu. Gisela tersenyum canggung. Semua orang di kantor tersebut berdiri, karena memang ayah sudah mengumumkan akan kedatangan satu-satunya putri kandungnya. Matanya berkaca-kaca melihat Gisela yang sekarang sudah menjadi gadis cantik. Hanya saya yang bingung apakah harus menangis, tertawa, duduk, atau berdiri. Yang pasti saya merekam peristiwa ini seperti membaca novel saja layaknya.
Pulang dari pertemuan tersebut Gisela gemetar ketakutan. Ia sangat takut dengan ibunya. Ibunya melarang dengan keras untuk berhubungan dengan keluarga ayah kandungnya. Jika ketahuan, akan terjadi perang nuklir di rumahnya. Itu juga sebabnya kami tidak berhubungan dengan sering dengan keluarga tersebut. Kami hanya bertukar nomor telepon, dan hal-hal penting lainnya. Orang tua dari Gisela menyembunyikan masa lalunya dengan baik. Ketika itu adik dari Gisela sendiri tidak mengetahui bahwa kakaknya berasal dari ayah yang berbeda. Kami juga tidak ingin menyakiti hati ibu, sehingga tidak melanjutkan hubungan dengan ayah kandung Gisela dengan lebih intensif. Cukuplah Gisela mengetahui siapa ayah kandungnya. Setelah pertemuan itu kami bertemu dengannya hanya beberapa kali saja. Tidak lebih dari 5 kali.
Beberapa tahun setelah pernikahan kami, seorang tante memberi tahu Gisela bahwa kemarin baru saja dia bersama ibu dari Gisela melayat pada pemakaman ayahnya. Tentu saja kami seperti disambar petir! Segera kami menelpon semua nomor telepon yang berhasil kami kumpulkan dari pihak ayah kandung. Kami akhirnya berhasil datang ke rumah tante Sandy, adik terkecil dari ayah Gisela. Di rumahnya tersebut kami juga bertemu dengan Oma Ida, yang ternyata nenek dari Gisela. Seorang Oma yang lincah, sampai sekarang. Sejak itu kami menjalin hubungan yang cukup dekat dengan keluarga ayah kandung Gisela. Bahkan kami sering menginap di rumah mereka.
Untuk menjaga perasaan ibu dari Gisela, kami tetap merahasiakan hal ini. Keluarga saya juga saya tidak beri tahu. Sampai pada suatu hari, kami mendapat telepon bahwa Oma Ida menyetujui untuk membongkar kuburan dari ayah Gisela, dan tulang-tulangnya di kremasi. Pihak keluarga menanyakan kepada Gisela, karena keluarga paling dekat adalah Oma Ida sebagai ibu dan Gisela sebagai anak kandung. Pada saat kremasi, saya lah yang membawa abu yang lalu ditaburkan di laut. Saya juga yang memimpin doa-doanya.
Setelah kejadian tersebut kami banyak sekali berdiskusi tentang perceraian. Kami sepakat bahwa perceraian adalah suatu hal yang sangat buruk. Akibat dari perceraian akan terus terbawa sampai masa depan anak-anak. Pada saat itu Gisela bertanya kepada saya untuk meyakinkan bahwa saya tidak akan meninggalkannya. Sekali lagi saya berjanji kepada Gisela untuk tidak meninggalkannya apapun yang terjadi. Beberapa kali kami menghadiri pernikahan dari mempelai yang orang tuanya bercerai. Terasa kebingungan dan kecanggungan dari berbagai pihak keluarga. Pada beberapa kasus, bahkan ada orang tua kandung yang tidak menghadiri pernikahan anaknya sendiri. Setiap kali hal ini terjadi, setibanya di rumah saya mengulangi lagi janji saya kepada Gisela bahwa saya tidak akan meninggalkannya. Ia sangat takut hal tersebut terjadi pada dirinya.
Pada saat Tof lahir di tahun 2000, kami bersepakat untuk Gisela berhenti dari pekerjaannya, dan menjadi ibu rumah tangga sepenuh waktu. Orang tua Gisela memberikan kami sejumlah uang untuk membeli rumah kami sendiri. Keadaan keuangan kami tidak begitu baik, karena kami memang mendapatkan gaji bulanan yang relatif kecil. Pada saat itu juga kami belum mempunyai kecerdasan finansial yang cukup. Semua uang kami pakai untuk kegiatan pelayanan kami. Tif Lahir di tahun 2006. Keuangan kami semakin sulit.
Kami berdua tidak terlalu memperhatikan liburan. Kami tidak pernah merencanakan sebuah perjalanan yang hanya memang untuk liburan. Semua liburan kami gabung dengan kegiatan pekerjaan, dan kepentingan lainnya. Kami berpikir bahwa toh kami bersama-sama terus. Sekarang saya merindukan masa-masa tersebut.
Pada Mei 2009 saya mendapat serangan jantung. Pada pagi itu saya merasakan ada ‘tekanan’ di ulu hati saya. Tekanan tersebut hilang tidak lama kemudian, tetapi lalu berulang lagi 30 menit kemudian. Saya segera memberitahu hal ini kepada Gisela. 2 Tahun sebelumnya, saya pernah diperiksa jantung oleh dokter. Saya yang melapor bahwa ada sakit di dada kiri. Dokter memeriksa sampai kepada pemeriksaan Anggiography, pemeriksaan pembuluh darah jantung yang direkam dalam video. Pemeriksaan tersebut menunjukan bahwa pembuluh darah saya 100% clear tanpa ada tanda-tanda penyumbatan. Saya lega bukan main. Sakit di dada itu dikarenakan otot di dada. Pada saat itu Tif sudah semakin besar. Ketika dia tertidur di mobil, saya mengangkatnya. Tentu saja posisi mengangkat tidak sebaik atlit angkat besi. Sakit otot tersebut berasal dari kegiatan “Angkat Anak”.
Dokter jantung saya pernah bercerita bahwa serangan jantung sering kali di anggap sebagai sakit lambung. Pagi itu saya mengambil semua catatan medis saya dan membawanya ke unit gawat darurat di rumah sakit. Dokter jaga menduga ini adalah sakit lambung. Saya diberi obat penawar rasa sakit. Diagnosa ini wajar, karena saya membawa catatan medis pemeriksaan jantung lengkap 2 tahun lalu yang menunjukan bahwa jantung saya dalam keadaan baik. Kecil kemungkinannya saya mendapat serangan jantung sekarang. Saya meminta pemeriksaan jantung. Hasil pemeriksaan jantung langsung menunjukan bahwa saya terkena serangan jantung. Segera prosedur penangan penyakit jantung di lakukan. Singkatnya saya mendapat tambahan 2 ring di pembuluh jantung saya ditambah sebuah video lengkap prosedur pemeriksaan dan pemasangan ring jantung tersebut. Inilah pertama kalinya saya menginap di rumah sakit seumur hidup saya. Dengan keadaan keuangan yang buruk, untunglah banyak teman dan terutama keluarga yang membantu saya dalam hal biaya.
Gisela mengalami shock berat. Tetapi dia berhasil menyembunyikannya kepada saya. Istri saya ini memang wanita yang tangguh. Dia menghadapi semuanya ini. Selama 1 minggu saya di rumah sakit, dia terus tidur di rumah sakit. Ketika saya di ICCU dia tidur di ruang tunggu depan bersama Tof. Ketika pindah di kamar perawatan, dia duduk di kursi dekat kaki saya dan tidur dekat kaki saya. Dia memang luar biasa. Pada malam hari saya meneteskan air mata melihat dia tertidur kelelahan. Pada saat itu saya tidak takut meninggal. Tetapi saya lebih banyak memikirkan dia dan anak-anak.
Saya berperan sebagai suami, kakak, dan juga ayah bagi Gisela. Saya juga kakak rohani bagi istri saya. Saya sangat mencintai dia. Anak-anak juga sangat mengasihi ibu mereka. Tetapi shock terlalu besar.
Selama 2 bulan pertama, saya tidak diperkenankan untuk melakukan hal yang berat, dan saya juga tidak diperkenankan menerima telepon. Semua masalah keuangan Gisela yang menangani. Tetapi tentu saja masalah keuangan yang memang tidak baik, menjadi semakin kacau karena saya tidak dapat melakukan kegiatan apapun. Jadwal pembayaran kartu kredit yang memang sudah sangat ketat menjadi kacau. Gisela panik.
Gisela mendapat kabar bahwa seorang tantenya di Australia menderita sakit dan perlu di operasi. Tante tersebut mempunyai seorang suami yang sudah sangat tua dan juga dalam keadaan tidak terlalu baik. Jika operasi dilakukan, maka akan ada seseorang yang harus di bayar untuk mengurus sang suami, selain itu juga dibutuhkan seseorang untuk membantu kegiatan harian tante tersebut ketika pulang dari rumah sakit. Gisela pernah sekolah di Australia, dan tinggal di rumah tante tersebut di Perth Australia. Anak-anak dari tante tersebut mengusulkan agar Gisela bisa datang ke Perth dan merawat tante tersebut. Mereka kan memang harus mengeluarkan uang untuk perawat, sebaiknya uang tersebut diberikan ke Gisela untuk membantu keuangan keluarga kami yang buruk.
Solusi yang baik? Pada waktu itu kelihatannya ya. Tetapi saya sekarang menyesalkan keputusan tersebut. Setelah 3 bulan Di Australia, dia kembali ke Indonesia. Terasa pikirannya berubah. Ia mengeluhkan udara yang panas, jalan yang penuh dengan lubang, dan hal-hal yang lainnya. Saya pernah mendengar keluhan seperti ini sebelumnya dari beberapa orang teman saya. Mereka akhirnya pindah tinggal di luar negeri. Sejak saat itu terasa ada beberapa hal yang disembunyikannya. Suasana tidak sebebas sebelumnya. Perpisahan sepanjang 3 bulan dapat mengubah suatu hubungan dengan sangat serius. Beberapa kali saya mengantarnya ke bank untuk membuka rekening. Ketika saya tanya untuk apa, dia mengalihkan pembicaraan. Saya tidak ingin mempermasalahkannya. Saya percaya penuh pada Gisela. Kami sudah bersama selama13 tahun.
Dia mengajukan Visa untuk ke Australia lagi, dan mendapatkan visa tersebut untuk 1 tahun lamanya. Segera ia berangkat tanpa meminta uang (karena tahu saya tidak memilikinya) dan kelihatannya dia tidak memiliki masalah tentang pembelian tiket tersebut. Pada saat di Indonesia dia mulai terlihat sangat intensif dengan facebook dan chating. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk hal ini. Sebenarnya saya kurang senang. Tetapi saya membiarkannya. Salah satu yang membuat saya bingung adalah tempat tinggalnya di Australia. Dia tidak tinggal di tantenya, dia juga tidak tinggal di rumah orang tuanya di Perth. Dia tinggal di sebuah rumah di daerah Maylands Perth. Dia mengatakan bahwa dia mendapat tugas untuk menjaga rumah kosong tersebut. Belakangan saya mengetahui bahwa dia tinggal bersama seseorang bernama David Thomas, kelak anak-anak menyebutnya uncle Dave.
Pada akhir 2009, saya mendapat suatu kesempatan aneh. Tetapi kesempatan ini ternyata hanya bertahan sekitar 1,5 tahun. Ada suatu perusahaan di Malaysia yang membuka cabang di Indonesia. Pak Mulyono, pimpinan penerbit Visimedia menghubungi saya untuk menulis buku tentang hal baru ini. Saya agak ragu-ragu, tetapi segera saya ada dalam proses menulis, dan dibimbing oleh beliau. Buku segera terbit, dan langsung menjadi best seller di bulan pertama. Buku pertama saya ini dicetak ulang 3 hari setelah hari pertama terbit. Dalam tempo sekitar 1 tahun buku ini dicetak ulang 16 kali. Ini suatu yang sangat diluar dugaan saya. Tetapi ada cerita lain.
Saya menghubungi direktur internasional dari perusahaan tersebut dan meminta area Australia untuk saya beli lisensinya. Pikiran saya pada saat itu adalah saya harus pergi ke Australia untuk mendapatkan istri saya kembali. Saya mau bersama istri saya lagi. Tidak perduli apapun usahanya. Tetapi reaksi Gisela hambar. Saya tidak perduli. Saya sudah terpisah lama dari dia, dan dia sudah akan segera ke Australia lagi dalam 1 minggu ke depan. Hari itu juga saya berjabat tangan, karena menjadi pemegang lisensi pendidikan anak-anak tersebut di Australia. Segera saya membuat rencana.
Saya mendapat cukup banyak uang dari hasil royalti dan komisi karena mengirim murid lewat website yang didukung oleh buku best seller. Tetapi semua itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk saya dapatkan. Saya harus membayar uang muka pembelian lisensi di Australia. Solusi yang terpikir adalah menjual rumah. Kan saya akan segera ke Australia dan rumah tersebut juga akan kosong. Rumah tersebut memakai nama Gisela sebagai pemiliknya. Dari hasil pembicaraan Gisela setuju untuk menjual rumah tersebut. Dia memang sudah lama berencana untuk menjual rumah tersebut. Saya yang sebenarnya masih ragu-ragu. Tetapi sekarang kami sepakat untuk menjualnya. Saya hanya mempunyai batas waktu 1 bulan untuk membayar uang muka lisensi. Pembeli segera didapat. Kakek tepat di sebelah rumah, mempunyai anak yang ingin sekali membeli rumah kami. Transaksi diatur. Gisela perlu datang ke Indonesia untuk menandatangani transaksi. Ia datang hanya untuk 3 hari. Selesai transaksi kami segera mentransfer uang muka lisensi. Tetapi Gisela menginginkan agar semua hasil transaksi masuk dalam rekeningnya sendiri. Saya tidak keberatan, saya percaya dia 100% dan uang itu juga berasal dari orang tuanya. Segera kami berempat pergi ke Australia 1 hari setelah transaksi tersebut berlangsung. Menempuh lembaran kehidupan yang baru.
Ternyata Australia penuh kejutan. Saya disewakan sebuah kamar kost di bu Rita, kakak dari seorang teman di Bandung. Anak-anak tinggal di Maylands bersama Gisela. Saya kira saya akan tinggal dengan Gisela. Dengan berbagai alasan hal tersebut tidak terjadi. Akhirnya saya menyewa sebuah rumah daerah Maddington. Sebuah rumah dengan 3 kamar tidur. Saya ingin segera mengatur agar Gisela pindah dan tinggal bersama saya. Saat itu sulit sekali berbicara dengan dia. Kelihatannya dia super sibuk. Saya tidak diberitahu kesibukannya. Saya ingin berkenalan dengan Dave. Ia menolak untuk mempertemukan saya dengan dia. Saya ingin mampir ke rumahnya. Ternyata tidak bisa. Akhirnya kami sepakat suatu hari untuk pindah. Saya lega. Rencananya Gisela akan pindah pada suatu hari Rabu. Hari Senin sebelumnya Tof di jadwalkan untuk masuk sebuah sekolah di Perth. Sang Tante yang dioperasi tadi bersedia membayarkan biaya sekolah yang cukup mahal tersebut. Minggu sebelumnya Gisela meminta ijin untuk kembali ke Indonesia karena perlu mengambil akte kelahiran asli dari Tof. Karena diperlukan di sekolah, katanya. Ia memohon ijin untuk mengambil kunci save deposit box yang saya titipkan di ibu saya di Bandung. Kali ini saya tahu ada yang disembunyikannya. Ia bertanya dengan manis yang dibuat-buat dan tegang. Saya tahu dia. Tetapi dalam keadaan ini saya tetap percaya 100% dengan Gisela. Itukan yang harus dilakukan dalam hubungan suami-istri? Saya mempercayainya tanpa ada cadangan apa-apa. Walaupun banyak tanda yang memberikan cukup alasan untuk berhati-hati.
Singkatnya saya mendapatkan akibat dari kepercayaan saya tersebut. Gisela tidak kembali ke Perth pada hari yang ditentukan. Saya tidak berhasil mendapatkan nomor penerbangan yang jelas, dan jam kedatangan. Hari itu saya marah. Alasannya adalah tiket dipegang oleh ibunya. Gisela memang kembali ke Bandung dengan ibunya. Saya telepon ayah mertua saya di Perth. Saya tanya tentang jadwal kedatangan mereka. Sang ayah mertua terdengar tidak tahu menahu, dan tidak mengetahui juga jadwal kedatangan anak dan istrinya. Saya berpikir ini ada 2 orang suami bingung yang kehilangan istri. Ternyata saya salah. Ia tidak kehilangan istrinya. Saya yang kehilangan istri saya. Semua sudah direncanakan.
Pada hari Minggu itu saya beserta Tof dan Tif pergi ke Airport. Perth sedang musim dingin. Tidak terlalu dingin memang. Tetapi cukup dingin. Tif sebenarnya agak batuk. Kami pergi pagi-pagi dan menunggu kedatangan pesawat pertama dari Indonesia atau Singapura. Kami menunggu sejak jam 8 pagi. Tentu saja kami seperti orang bodoh dari jaman kuno yang menunggu seseorang tanpa tahu jadwal dan penerbangan yang tepat. Kami bahkan tidak mendapat informasi apakah pesawat datang dari Indonesia atau Singapura. Setiap ada rombongan orang keluar kami bertiga segera mencari Gisela dengan penuh harap. Kami sudah membeli bunga untuk diberikan kepada Gisela. Tentu saja anak-anak sangat bersemangat bertemu dan berkumpul kembali dengan ibunya. Kami melihat banyak keceriaan dari para Australian yang bertemu dengan sanak saudaranya. Ada yang menyanyi, ada yang membawa sebotol anggur untuk menyambut temannya. Tetapi kami tidak melihat Gisela.
Batuk Tif semakin menjadi karena tidur sekadarnya di kursi metal yang dingin. Ia sempat muntah di pangkuan saya. Tentu saja saya panik menghubungi petugas kebersihan. Dengan simpatik petugas membantu membersihkan. Kami membeli makanan hanya untuk mengganjal perut kami. Hari itu kami pulang dari Perth Airport jam 4 pagi dalam keadaan letih, dan murung.
Hari Senin saya membatalkan niat untuk mengantar Tof ke sekolah. Ibunya belum ada. Saya bingung. Kemanakah istri yang saya cintai ini? Saya cemas mencari berita kecelakaan pesawat. Tetapi tidak ada kecelakaan pesawat hari-hari itu. Hari Selasa ayah mertua menelpon saya dan mengatakan ingin datang ke rumah pada hari Rabu, tetapi sebelumnya akan bicara dulu dengan Gisela. Waduh lega deh.
Kelihatannya ayah mertua ingin mendamaikan kami berdua. Mungkin karena lama tidak berkomunikasi jadi hubungan kami jadi renggang. Kelihatannya hari itu cerah. Gisela akan pindah hari Rabu bersama kami semua, dan mertua juga akan membantu memulihkan hubungan kami. Tepat pada hari itu juga adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke 15. Saya telah membeli sebuah souvenir manis untuk Gisela. Wow 15 tahun pernikahan. Saya memberi tahu Tof dan Tif tentang semua rencana indah ini. Tentu saja mereka sangat bersuka cita.
Jam 9 mereka datang! Tof dan Tif masih tidur. Saya biarkan mereka terus tidur. Mereka datang ber-empat. Gisela, ayah mertua, si tante yang dioperasi, dan Yudi, anak si tante yang tinggal di Singapura. Yudi adalah saudara sepupu yang paling dekat hubungannya dengan Gisela. Saya segera membuka pintu dan tersenyum lebar kepada Gisela. Saya segera menciumnya. Dia terasa canggung sekali. Ada yang tidak beres !
Gisela segera menyerahkan beberapa benda yang saya titip untuk dibawa dari Indonesia. Setelah serah terima yang sangat kaku. Dia diam seribu bahasa. Dari pengalaman selama 17 tahun (termasuk pacaran) bersamanya, ini adalah tanda pertahanan diri terakhir dari Gisela. Pada keadaan sulit dan menentukan dia akan diam seribu bahasa. Percuma untuk membuatnya berbicara dalam keadaan ini. Adrenalin saya segera mengalir deras. Jantung saya berdetak keras sekali. Tangan saya gemetar.
Ayah mertua membuka pembicaraan di meja makan. “Sebaiknya hubungan kalian Freeze dulu deh!”, begitu ujarnya. Saya terdiam sekitar 2 menit. Waktu yang lama sekali rasanya. Terbayang pertama kali saya bertemu dengan Gisela di klinik gigi milik Dr. Hendra Hidayat yang terkenal dengan implant-nya. Dr. Hendra adalah pemegang rekor Muri sebagai dokter yang pertama melakukan implant di Indonesia dan sebagai dokter dengan jumlah operasi implant terbanyak di Indonesia. Saya adalah konsultan komputer dan Gisela baru selesai study dari Australia dan membantu sebagai staff administrasi di klinik tersebut. Teringat saat-saat janji pernikahan kami di GKI Wahid Hasyim Jakarta. Saat berdua bersama. Penderitaannya ketika melahirkan Tof dan Tif. Perjuangan Gisela yang tidak dapat saya lupakan. Kebahagiaan bermain bersama berempat. Terbayang Gisela yang tidur di kaki saya di rumah sakit. Dunia terasa gelap.
“Awalnya dari masalah keuangan!”, tegas ayah mertua. Tentu saja penjualan rumah juga di singgung. Saya terbayang ketakutan Gisela ketika menyampaikan info bahwa rumah sudah dijual. Pasti dia ada dalam keadaan seperti disayat-sayat selagi hidup. Ayah dan Ibunya memang “kurang berperasaan”. Inilah yang terus dikeluhkannya sebelum menikah. “Saya rasa 15 tahun pernikahan sudah cukup ! Sekarang biarlah dia bebas ya”, lanjut sang ayah mertua yang budiman. Glek. . . .!
Saya menoleh ke kamar. Anak-anak masih tertidur dengan lelap. Biarlah saya hadapi sendiri semuanya. “Dalam masalah penting seperti ini, saya ingin berbicara berdua saja dengan Gisela”, jawab saya dengan lemah. “Apakah bisa tinggalkan kami berdua? Setelah 2 jam papa bisa kembali lagi kesini”, ini adalah tenaga saya terakhir. Mereka tidak mau pergi. “Silahkan saja bicara sekarang! Kami tunggu. Tuh Sela ada disitu!”, si tante berkata. “Aduh ini tante..”, begitu pikir saya. Saya menoleh ke Yudi. Dia terus menundukkan kepalanya sejak tadi.
Dengan menahan gemetar (tapi tetap gemetar juga sih), saya menyentuh lembut lutut Gisela yang duduk di depan saya.”Apasih maksudnya?”, tanya saya dengan lembut (sebenarnya ‘lembut’ adalah kata puitis untuk lemah), hampir tidak terdengar. Dia diam. Saya diam sambil memandangnya. 4 menit kali ini. “Cerai?”, kata itu tercekat di tenggorokan saya. Kami tidak pernah mempergunakan kata ini untuk hubungan kami. Saya sudah menghapus kata ini dari otak saya. Itulah sebabnya saya tidak bisa mengatakannya di depan Istri saya. Ia mengangguk lemah sambil berusaha tersenyum (tapi gagal tersenyum, jadinya nyengir).
“Kamu tetap bisa bertemu dengan anak-anak. Kita akan atur itu. Kalo kamu mau pulang ke Indonesia juga akan kami bantu membereskan rumah. Tiket pulang akan kami sediakan. Di pengadilan kamu pasti kalah! Mulai sekarang jangan telepon-telepon dan sms-sms lagi sama Gisela ya!”, si tante menambahkan. Eh si tante ikut campur lagi. Saya marah!
Meja makan saya gebrak sekuat tenaga saya. Kasian juga tuh meja makan, saya gebrak keras sekali. Supaya menambah efek cinematografis saya menggebraknya di depan ayah mertua. Kapan lagi nih! Tangan saya sakit, saya bukan atlit Karate atau Wushu. Tapi saya tidak perduli. Adrenalin harus di lampiaskan pikir saya, supaya saya tetap sehat. Ini adalah perdebatan besar seumur hidup saya. Saya adalah orang yang lembut dan tidak mau menyakiti hati orang lain. Ketika ini saya benar-benar lepas kendali. Saya coba berhenti marah. Dengan lembut yang dibuat-buat saya ajak Gisela untuk ke kamar menemui anak-anak. Intinya saya ingin berbicara berdua dengan dia. Dia menolak dengan lemah, dan memandang saya dengan ketakutan. Saya tidak marah dengan Gisela. Saya marah dengan ayah mertua, saya marah sama si tante ketus itu. Saya marah sama semua orang. Tetapi saya tidak marah sama Gisela. Ia tetap istri saya yang manis. Pikiran bawah sadar saya tetap melihat Gisela sebagai seorang istri yang ideal. Entahlah ini bodoh atau bloon. Saya tetap mengasihi dia sampai sekarang.
Mereka pamit pulang. Saya tanya Gisela, apakah mau melihat Tof dan Tif di kamar? Paling tidak untuk ‘say goodbye?”. Gisela diam ragu-ragu. Ayahnya segera menggandengnya keluar. What a great day ! saya melihat jam. Drama itu hanya berlangsung 40 menit. Hhhhh… 40 menit terlama dalam hidup.
Saya terduduk lemas. Yah apa lagi yang bisa saya lakukan. Rasanya ingin duduk terus sampai Tuhan menjemput. Pikiran saya kosong. Muncul rasa putus asa, rasa gagal, rasa salah. Semua rasa bercampur jadi satu, termasuk rasa coklat, apel dan pear. Kok bisa? yah lama-lama laper juga. Saya segera memakan coklat enak 70% cocoa, pahit dan hanya manis sedikit. Pear dan Apel yang saya beli di pasar murah buah Australia segera saya jus. Saya penuhi perut saya dengan jus. Mungkin 10 apel dan pear habis saya jus.
Tif bangun. Saya segera memeluk gadis cantik saya ini. Ia masih belum bisa bicara benar. “Mami?”, tanyanya sambil masih mengantuk. Air mata saya keluar tidak dapat dibendung lagi. Saya mengambil tissue. Secara naluri Tif mengambil tissue tersebut dan berusaha membersihkan air mata saya. Saya terus menangis tanpa dapat bersuara.
Tof bangun dan juga bertanya tentang mommy – nya. Saya katakan bahwa mommy tadi dateng, tapi udah pergi lagi. “Katanya mau pindah hari ini!”, serangnya kepada saya. “Ga jadi, Mom ga jadi pindah hari ini Tof”, saya berusaha menjelaskan. Tapi dia marah. Dasar cowok, kurang perasaaan. Tapi dia merasakan ada hal yang berbeda kali ini. Bukan sekedar penundaan. Dia memperhatikan mata saya yang merah. “Kapan?”, desaknya. “Ngga tau Tof, daddy juga bingung, mommy ga mau pindah kesini”. Berkat kedua pahlawan ku ini, hari itu berlalu dengan baik. Malamnya kami bertiga masuk dalam selimut, dan membacakan cerita untuk mereka. Udara sangat dingin. Kaca mobil di luar terlapisi es pada pagi harinya. Seakan-akan Perth mengetahui suasana hati yang sangat dingin ini. Brrrr…..
Saya sangat letih. Mata sudah berat. Tetapi hati ini belum mau di ajak tidur. Yah memang suami macam apa jika malam ini tidur nyenyak. Tidak pernah ada pembicaraan dengan Gisela tentang perceraian. Terbayang semua kronologis peristiwa. Serangan jantung, cerita tante di operasi, Gisela ke Australia, penjualan rumah, ijin membuka save deposit box (kelak saya sadari bahwa Gisela mengambil semua surat-suratnya dari save deposit box. Bahkan akte kelahiran Tof dan Tif juga tidak dapat saya temukan sampai sekarang). Tetapi saya tidak menyadari adanya suatu rencana yang lebih besar lagi. Terlalu besar untuk dapat saya bayangkan saat itu. Secercah sinar matahari masuk menyinari lewat celah-celah gorden. Pagi hari! tapi saya belum mengantuk.
Rencana besar apa yang menanti? Bagaimana masa depan Gisela ? Apa yang dilakukan Hartono selanjutnya? ayo lanjutkan cerita selanjutnya, klik disini
