Seorang direktur Bank yang ternama bingung ketika mendapat laporan dari seorang anak buahnya tentang transaksi yang lakukan oleh salah seorang nasabah. Selama 20 tahun, setiap minggu nasabah tersebut hanya melakukan transaksi setoran, dan tidak pernah ada transaksi penarikan dana. Akhirnya nasabah tersebut dipanggil.
“Sebenarnya apa sih usaha bapak?”, tanya direktur bank penasaran. “Saya adalah seorang pejudi yang senang bertaruh..”, jawab nasabah berumur 60 tahunan itu. “Saya mendapatkan penghasilan karena bertaruh, karena saya tidak pernah kalah, dan selalu menang”, jelas sang nasabah. Tentu saja direktur bank tidak percaya. Mana ada orang bertaruh yang selalu menang.
“Bagaimana cara bapak bertaruh?”, direktur bank bertanya semakin ingin tahu. Barangkali saja ia dapat belajar untuk mendapatkan pendapatan tambahan yang lumayan besar seperti nasabahnya itu. “Baiklah, bagaimana jika kita bertaruh saja?”, tantang nasabah itu. “Ok, boleh. Bagaimana taruhannya?”, kata direktur bank dengan cepat.
“Saya berani bertaruh sebesar 50 juta, bahwa besok tepat jam 12 siang, kemaluan bapak akan hilang!”, kata nasabah tersebut dengan tenang.
“50 Juta?, besok jam 12? Kemaluan saya hilang!?”, seru direktur bank dengan bingung dan panik. 50 Juta adalah jumlah yang cukup besar sebagai petaruh pemula seperti dirinya. Tetapi yang paling mengganggunya adalah topik taruhannya. Pejudi tua itu berani bertaruh bahwa kemaluannya akan hilang besok tepat jam 12 siang. Sebenarnya ia yakin bahwa kemaluannya tidak akan hilang besok. Selama 40 tahun hidup, belum pernah sekalipun ia kehilangan barang kesayangannya itu. Tetapi reputasi pejudi ini yang membuatnya khawatir. Ia penjudi profesional dengan rekord tidak pernah kalah selama 20 tahun.
“Baiklah… kita bertaruh Rp. 50 juta, besok datang jam 12 siang, kita lihat siapa yang menang!”, akhirnya direktur bank memutuskan. Ia tidak tahan dengan rasa penasarannya. “OK, besok saya akan datang jam 12 kurang sedikit”.
Sepanjang malam direktur bank itu tidak dapat tidur. Ia bermimpi buruk bahwa ia kehilangan kemaluan. Beberapa kali ia terbangun dari mimpinya dan dengan panik membuka celananya. Ia baru tenang setelah mengetahui bahwa kemaluannya tetap ada seperti biasanya. Esok harinya ia membatalkan semua appointment pagi hari, dan ia tidak mau diganggu oleh siapapun. Menjelang jam 12 ia memegang kemaluannya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia pasti menang taruhan.
Jam 12 kurang nasabahnya masuk diantar oleh sekertarisnya. Nasabah tersebut membawa seorang kawan. Setelah menyuruh sekertarisnya keluar, ia segera menyalami nasabahnya dengan gembira. Segera ia membuka celananya dan memperlihatkan kemaluannya. “Kali ini kamu kalah ! Ayo serahkan uangnya”, seru direktur bank kepada nasabahnya.
Sang pejudi kawakan ini menoleh kepada temannya dengan tertawa, “Nah kamu lihat sendiri kan? Ayo bayar 150 Juta sekarang juga!”, dengan tersenyum kecut sang temannya itu mengeluarkan uang 150 juta yang ada di tasnya. Nasabah itu segera mengambil Rp 50 Juta dan memberikannya kepada direktur bank yang semakin bingung, kemudian pamit untuk menyetor uangnya di teller bawah.
Sambil membereskan celananya, direktur bank itu meminta penjelasan kepada teman dari penjudi itu yang juga masih bingung. “Saya bingung kenapa bapak dengan gembira memperlihatkan kemaluan bapak kepada kami. Teman saya itu bertaruh bahwa ia dapat menyuruh bapak untuk membuka celana dan memperlihatkan kemaluan bapak kepada kami. Tentu saja saya tidak percaya. Ia meminta taruhan Rp 150 juta. Saya pikir tidak mungkin orang seperti bapak akan melakukan hal seperti ini.”
Hari itu sang direktur bank belajar hal baru tentang “Manajemen Resiko”.