Pada saat usia saya 18 thn, saya pernah pergi ke suatu pusat perbelanjaan dengan ribuan model baju. Saya ingin mencari satu baju yang bagus. Setelah 3 jam mencari, saya pulang dengan tangan hampa. Itu karena terlalu memilih-milih. Yang ini terlalu aneh, yang itu warnanya terlalu JRENG!, yang itu tidak ada kesan. Cerewet memang
Pada saat usia saya 23 tahun, saya bekerja sambil kuliah tahap akhir. Keputusan hanya diambil 15 menit ketika ketemu dengan pemilik perusahan garmen itu. Apakah saya memilih pekerjaan ? Kelihatannya tidak. Saya pada saat itu tidak memilih pekerjaan. Saya mengambil apa saja yang tersedia.
Mengapa seorang pekerja kelihatannya tidak bersemangat pada waktu kerja ? Karena itu bekerja, sementara itu pikiran dan kesenangannya tidak disitu. Bagaimana dia mendapatkan pekerjaan itu ? Kelihatannya prosesnya seperti saya. Ambil saja yang ada didepan mata.
Area antara pekerjaan dan kehidupan pribadi itu disebut “Grey Zone”. Ini adalah orang-orang yang berpikir tentang rumah ketika kerja dan berpikir tentang pekerjaan ketika di rumah. Ada orang yang menjadi pahlawan dalam dunia pekerjaan, tetapi bukan pahlawan dalam keluarga. Hal ini semakin banyak terjadi. Tetapi ada juga orang yang menjadi pahlawan dalam keluarga tetapi bukan orang yang dipuji dalam pekerjaannya. Yang paling benar kan prestasi di dua-duanya ? Apakah Mungkin ? Jika kita bilang mungkin maka itu mungkin. Jika kita bilang tidak mungkin, ya terjadilah begitu.
Rencana di pekerjaan dan karir kita harus singkron dengan rencana pribadi dan keluarga. Masalahnya adalah kita tidak punya rencana karir dan tidak punya rencana pribadi / keluarga. Jadi apanya yang harus disingkron kan ? Mulailah dengan rencana pribadi dan rencana pekerjaan / karir. Hari ini saya merencanakan apa yang akan terjadi 10 tahun di depan. Di tahun 2021. Umur saya sudah bertambah 10 tahun. Anak saya pada waktu itu akan berumur 20 tahun ! Wow waktu cepat sekali. Coba tuliskan rencana anda di tahun 2021. Berimajinasi sajalah. Jangan dibatasi dengan keadaan sekarang dulu. Pikirkan yang enak-enak.
Posted via email from Hartono’s posterous